Fakultas Tarbiyah & Ilmu Keguruan | IAIN Pekalongan

MENJADI GURU: Antara Realitas dan Idealitas

E-mail Print PDF

MENJADI GURU:

ANTARA REALITAS DAN IDEALITAS

Mochamad Iskarim*

 

PENDAHULUAN

Dunia pendidikan di negeri ini selalu menyisakan berbagai hal yang ironis. Hal ini terjadi karena selama ini dunia pendidikan dipandang sebelah mata dan tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Bahkan, yang paling ironi lagi adalah adanya kenyataan menyakitkan bahwa dunia pendidikan sudah menjadi budaya permainan politik. Berbagai intervensi dan hegemoni politik terhadap dunia pendidikan selama ini terus berlangsung, dan bahkan dunia pendidikan menjadi komoditas politik yang keuntungannya tidak kembali kepada dunia pendidikan namun ke kantong kepentingan para elite politik.

Disadari atau tidak, semua pranata, semua komponen, semua struktur, semua pribadi itu lahir dari dunia pendidikan, pendidikan dalam arti luas yang telah menjadi prasyarat mutlak tereksistensinya sendi-sendi kehidupan. Kita semua seakan-akan munafik terhadap perjalanan kehidupan kita, eksistensi kita, apa yang kita raih sekarang ini, penghidupan yang telah menghidupkan kita dan segala hal yang telah mendidik kita menjadi orang yang hidup dan terdidik. Semua itu lahir dari pendidikan orang tua, sekolah, dan lingkungan di mana kita berdiri tegak sekarang ini.

Berbagai fenomena tersebut seolah menjadi cermin bagaimana akutnya penyakit budaya kehidupan kita terhadap dunia pendidikan. Dunia pendidikan dianggap sebagai dunia stagnan yang hanya mengurusi jenjang-jenjang dan kuantitas-kuantitas yang pada akhirnya bisa menjadi modal untuk mencari kehidupan dengan didasari pola pikir yang materialistis dan mekanis. Sungguh ironis, pendidikan hanya berfungsi sebagai mesin yang bergerak mekanis. Akibatnya, dunia pendidikan sekarang ini menjadi dunia yang kaku dan hanya melahirkan robot-robot mekanis yang tidak berbudaya, bermoral dan hanya mementingkan nilai-nilai kuantitas belaka tanpa memperhatikan kualitas yang seharusnya paling dipentingkan untuk membentuk manusia cerdas lahir dan batin sehingga dapat membentuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang maju dan berperadaban.

Di sisi lain, budaya yang beredar di masyarakat kita bahwa profesi pendidik adalah profesi yang tidak menjanjikan dan bahkan menempati posisi sebagai profesi yang nomor sekian di bawah profesi-profesi lain. Bahkan hal itu sudah menjadi konvensi yang mengakar dalam pola pikir masyarakat kita. Akibatnya, banyak orang yang menjadikan profesi guru sebagai profesi loncatan atau sebagai terminal terakhir setelah kegagalan dalam mencari profesi yang lain. Kalau sudah begini, apakah mungkin dunia pendidikan akan melahirkan manusia-manusia berkualitas dan bermoral serta berperadaban yang bisa membangun negeri ini menuju ke puncak kejayaannya, sedangkan para pendidiknya (guru) berangkat dari unsur keterpaksaan dan tidak berasal dari hati nuraninya untuk menjadi pendidikan? Bagaimana mungkin guru bisa megajarkan sesuatu yang benar secara nurani dan bermoral dari segi perilaku, sedangkan pola dan paradigma kehidupannya sudah tidak berangkat dari jalur yang benar? Dan bagaimana pula guru dapat secara totalitas menjalankan profesinya tersebut jika tidak diimbangi dengan kesejahteraan kehidupan guru itu sendiri?

PROGRESIVITAS KUALITAS GURU DALAM UPAYA MENCERDASKAN BANGSA

Potret Guru: Realitas Adanya Kesenjangan

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” adalah salah satu julukan yang dapat disematkan kepada sosok guru. Julukan ini mengisyaratkan bahwa betapa besar peran dan jasa yang dilakukan oleh guru selayaknya seorang pahlawan. Namun, penghargaan terhadap guru nyatanya tidaklah sebanding dengan besarnya jasa yang telah diberikan. Guru adalah sosok yang dengan tulus mencurahkan sebagian waktu yang dimilikinya untuk mengajar dan mendidik siswa, sementara dari sisi finansial yang didapatkan sangat jauh dari harapan. Gaji seorang guru rasanya terlalu jauh untuk mencapai kesejahteraan hidup layak sebagaimana profesi lainnya. Hal itulah kiranya menjadi salah satu yang melatarbelakangi mengapa guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa kehidupan ekonomi sebagian besar guru di Indonesia penuh dengan persoalan. Jika kita mau meneliti kehidupan para guru, akan ditemukan fakta bahwa sebagian besar guru telah “menyekolahkan”, atau menggadaikan SK-nya untuk meminjam uang di Bank. Hal ini diamini oleh Dr. Abdul Adhim selaku salah satu kepala bidang di kementerian Agama RI yang berkesempatan menyampaikan materi dalam workshop “Redesain Kurikulum STAIN Pekalongan” tanggal 21-23 Oktober 2013. Dia menyatakan bahwa rasanya tidak ditemukan ada PNS di Negeri ini (Indonesia) yang tidak menyekolahkan SK-nya untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan, tidak jarang, ada seorang guru yang ketika awal bulan bukannya senang, tetapi justru sedih karena gajinya nyaris habis dipotong untuk berbagai pinjaman. Awal bulan yang seharusnya menjadi saat suka cita karena akan menerima gaji, tidaklah dirasakannya.

Jika kondisi semacam ini masih terjadi, bagaimana seorang guru dapat mengajar dengan penuh totalitas sedangkan “asap dapur” tidak ada kepastian?. Secara logika tentunya terjadi sedikit kesulitan untuk mengajar dengan penuh totalitas ketika seorang guru harus bergelut dengan keterbatasan ekonomi. Ketika mengajar, guru tidak lagi berpikir dan mencurahkan segenap energinya karena masih ada masalah dengan asap dapurnya tidak mengepul dengan lancar, belum lagi anaknya harus membayar SPP, biaya listrik, air, dan kebutuhan lain yang antri untuk dipenuhi setiap bulannya. Maka dari itu, sebagaimana diberitakan, sebagian besar guru harus mencari tambahan penghasilan lain di luar tugasnya mengajar. Ada yang harus mengajar di berbagai sekolah dari pagi sampai malam. Ada yang menjadi tukang ojek, tukang becak, buruh tani, bahkan yang ironis ada yang menjadi pemulung.

Kesejahteraan dan peningkatan kualitas guru memang masih kurang memperoleh perhatian optimal dari pemerintah. Hal ini tercermin dari politik anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk guru dalam setiap tahun yang masih jauh dari angka layak, apalagi ideal. Kesejahteraan guru memang sangat dipengaruhi oleh kondisi moneter Indonesia yang belum stabil. Akibatnya, target 20 persen anggaran negara untuk pendidikan belum bisa terpenuhi. Selain itu, program sertifikasi guru yang dicetuskan untuk meningkatkan profesionalitas dan mendongkrak kesejahteraan pendidik juga belum terbukti secara merata (Ngainun Naim, 2009:3).

Apapun yang terjadi, itulah potret sebagian dari guru di Indonesia. Di tengah himpitan hidup yang kian sesak, dan kebutuhan hidup yang terus membumbung tinggi, mereka harus menjalankan tugas mulia dan berat, yaitu harus mencerdasakan para siswanya. Pada saat mereka berjuang mencerdaskan para siswanya, belum tentu anaknya sendiri mampu mengenyam pendidikan secara layak. Banyak anak guru yang tidak dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat sarjana. Bukan rahasia lagi bahwa kebutuhan biaya kuliah sekarang ini melangit. Apalagi pada jurusan-jurusan tertentu, biayanya hampir pasti tidak dapat dijangkau oleh gaji guru. Jika seorang guru memiliki tiga anak yang harus kuliah, paling tidak dia harus menyiapkan uang sekitar 2,5 juta per bulannya. Mengandalkan dari gaji guru saja tentu tidak cukup untuk biaya sebanyak itu. Oleh karenanya, kuliah di lembaga pendidikan berkualitas bagi anak guru tampaknya hanya akan menjadi cita-cita saja jika tidak ada faktor-faktor lain yang mendukung terhadap pembiayaannya. Misalnya, selain sebagai guru, ada tambahan pendapatan lain yang mendukung.

Mengingat begitu besarnya peran guru seyogianya diimbangi dengan penghargaan yang diberikan kepadanya. Walaupun kenyataannya menunjukkan bahwa secara finansial profesi guru belumlah mampu mengantarkan kepada kehidupan yang sejahtera. Namun demikian, bukan berarti hal ini mengurangi penghargaan yang selayaknya diberikan. Bahkan di era sekarang sumber belajar telah berkembang dan melimpah sedemikian pesat, peran guru sebagai sumber belajar utama tidaklah dapat tergantikan. Bukan hal yang terlalu berlebihan jika guru harus dihormati. Bahkan, Imam al-Ghazali pun menulis dalam kitabnya Ayyuha al-Walad dengan penuh empatik tentang guru:

“Seseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang dinamakan orang besar di kolong langit ini. Dia itu ibarat matahari yang menyinari orang lain, dan menyinari dirinya sendiri. Ibarat minyak kasturi yang wanginya dapat dinikmati orang lain, dan ia sendiri pun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan sangat penting. Maka hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya ini” (A. Mujab Mahalli, 1991:55)

 

Arti Penting Guru dalam Pembentukan Generasi Berkualitas

Terlepas dari banyaknya persoalan yang dihadapi guru dalam hidup kesehariannya, guru tetaplah sosok penting yang cukup menentukan dalam proses pembelajaran. Walaupun sekarang ini ada berbagai sumber belajar alternatif yang lebih kaya, seperti buku, jurnal, majalah, internet, maupun sumber belajar lainnya, guru tetap menjadi kunci untuk optimalisasi sumber-sumber belajar yang ada. Guru tetap menjadi sumber belajar yang utama. Tanpa kehadiran guru, proses pembelajaran tidak akan dapat berjalan secara maksimal. Orang mungkin dapat belajar mandiri (autodidak) secara maksimal sehingga kemudian menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu. Akan tetapi, autodidak tetap akan berbeda hasilnya dengan mereka yang juga sama-sama berusaha dengan maksimal di bawah bimbingan guru.

Guru atau pendidik merupakan sosok yang seharusnya mempunyai banyak ilmu, mau mengamalkan dengan sungguh-sungguh ilmu yang dimilikinya dalam proses pembelajaran dalam makna yang luas, toleran, dan senantiasa berusaha menjadikan siswanya memiliki kehidupan yang lebih baik. Secara prinsip, mereka yang disebut sebagai guru bukanlah hanya mereka yang memiliki kualifikasi keguruan secara formal yang diperoleh lewat jenjang pendidikan di perguruan tinggi saja, tetapi yang terpenting adalah mereka yang mempunyai kompetensi keilmuan tertentu dan dapat menjadikan orang lain pandai dalam matra kognitif, afektif, dan psikomotorik. Matra kognitif menjadikan siswa cerdas dalam aspek intelektualnya, matra afektif menjadikan siswa mempunyai sikap dan perilaku yang sopan, dan matra psikomotorik menjadikan siswa terampil dalam melaksanakan aktifitas secara efektif dan efisien, serta tepat guna. Guru tidaklah cerdas untuk dirinya sendiri namun dapat menyebarkan virus kecerdasan untuk orang lain (anak didiknya).

Di sinilah letak pentingnya peranan seorang guru. Sehingga bukan hal yang terlalu berlebihan jika ada penilaian bahwa berhasil atau tidaknya proses pendidikan tergantung kepada peranan guru. Walaupun peranannya sangat menentukan, namun harus disadari bahwasanya guru bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan atau kegagalan pembelajaran. Sebab, keberhasilan atau kegagalan pembelajaran dipengaruhi oleh beragam faktor yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu, guru harus menghindari sikap merasa sebagai pihak paling berjasa dan paling menentukan dalam keberhasilan pembelajaran. Begitulah kehebatan dan pengaruh guru pada sebuah lembaga di mana ia bernaung. Hanry Adam, seorang sejarahwan terkemuka, sebagaimana dikutip M. Nurdin (2004:32), mengatakan: A teacher effect eternity, he can never tell where his influence stops (Seorang guru itu berdampak abadi, ia tidak pernah tahu dimana pengaruhnya itu berhenti).

Dalam konsep pendidikan tradisional Islam, menurut Piet A. Sahertian, posisi guru sangatlah terhormat. Guru diposisikan sebagai orang yang 'alim, wara', shalih, dan sebagai uswah sehingga guru dituntut juga beramal shaleh sebagai aktualisasi dari keilmuan yang dimilikinya. Sebagai guru, ia juga bertanggung jawab kepada siswanya, tidak saja ketika proses pembelajaran berakhir, bahkan sampai di akhirat. Oleh karena itu, wajar jika mereka diposisikan sebagai orang-orang penting dan mempunyai pengaruh besar pada masanya, dan seolah-olah memegang kunci keselamatan rohani dalam masyarakat (Ngainun Naim, 2009:5).

Seiring perkembangan zaman, posisi dan peran guru juga mengalami perubahan. Otoritas guru semakin menyusut di tengah gerusan perubahan yang semakin kompleks. Guru kini menghadapi tantangan besar yang semakin hari semakin berat. Hal ini menuntut seorang guru untuk senantiasa melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan kualitas peribadi maupun sosialnya. Tanpa usaha semacam ini, posisi dan peranan guru akan semakin terkikis.

Jika seorang guru senantiasa memiliki spirit yang kuat untuk meningkatkan kualitas pribadi maupun sosialnya, maka keberhasilan dalam menjalankan tugasnya akan lebih cepat untuk tercapai, yaitu mampu melahirkan para siswa yang memiliki budi pekerti luhur, memiliki karakter sosial dan profesional sebagaimana yang menjadi tujuan fundamental dari pendidikan. Menurut Ngainun Naim (2009:6-9) karakter pribadi dan sosial bagi seorang guru dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk sikap sebagai berikut:

Pertama, guru hendaknya menjadi orang yang mempunyai wawasan yang luas. Oleh karena itu, seorang guru harus selalu berusaha secara maksimal untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuannya. Dalam pendidikan, prinsip belajar sepanjang hayat (long life education) harus menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan seorang guru. Prinsip belajar sepanjang hayat tidak hanya berlaku bagi siswa, tetapi juga bagi guru. Guru yang justru harus menjadi teladan dari prinsip ini. Sebelum mencerdaskan, guru harus mencerdaskan dirinya terlebih dahulu. Dinamika dan perkembangan yang berlangsung sedemikian cepat mengharuskan seorang guru merespon secara kreatif. Tanpa kemauan untuk selalu meningkatkan wawasan dan pengetahuannya, maka apa yang diajarkan guru akan kehilangan perspektif yang mencerahkan. Tidak akan ada nuansa, cara pandang, dan kontekstualisasi dari apa yang diajarkan. Guru yang tidak pernah mau meng-up-grade pengetahuannya ibarat sebuah kaset yang terus-menerus diputar ulang tanpa ada revisi dan penambahan sama sekali.

Kedua, apa yang disampaikan oleh seorang guru harus merupakan sesuatu yang benar dan memberikan manfaat. Guru adalah panutan, terutama bagi siswa. Menyampaikan ilmu yang tidak benar dan tidak bermanfaat merupakan sebuah bentuk penyebaran kesesatan secara terstruktur. Jika apa yang disampaikan tidak memiliki landasan kebenaran keilmuan yang kukuh serta tidak memberikan nilai kemanfaatan, maka mengajar akan kehilangan relevansinya bagi siswa. Sebagai akibatnya, para siswa akan merasakan bahwa apa yang dipalajari bukan suatu hal yang memberi manfaat dalam kehidupannya.

Ketiga, dalam menghadapi setiap persoalan, seorang guru harus mengedepankan sikap objektif. Sikap objektif merupakan bentuk usaha dari seorang guru untuk memahami dan menyikapi setiap persoalan secara proporsional. Sikap emosional merupakan sebuah sikap yang kerap menjerumuskan seorang guru kepada subjektifitas. Sikap objektif penting untuk dimiliki oleh seorang guru. Sikap semacam ini akan menjadikan seorang guru mampu melihat, menyikapi, dan menghadapi segala persoalan dengan penuh kearifan.

Keempat, seorang guru hendaknya memiliki dedikasi, motivasi, dan loyalitas yang kuat. Karakter semacam ini akan menjadikan seorang guru semakin berwibawa dan menjalankan profesinya dengan penuh penghayatan dan totalitas.

Kelima, kualitas dan kepribadian moral harus menjadi aspek penting yang melekat dalam diri guru. Tugas seorang guru bukan sekedar mengajar, tetapi juga menjadi teladan. Apapun yang ada pada diri seorang guru akan menjadi perhatian dan sorotan para siswanya. Dengan posisi semacam ini, aspek keteladanan sangat penting untuk dimiliki seorang guru. Guru yang pandai tetapi tidak memiliki integritas moral yang baik justru akan dapat merusak terhadap citra guru. Hal ini merupakan aspek penting yang harus memperoleh perhatian secara memadai dari setiap guru. Sekarang ini, semakin banyak guru yang menampilkan citra negatif, mulai guru yang melakukan kekerasan, melakukan tindakan amoral, dan berbagai perilaku yang kurang terpuji lainnya. Di sinilah makna pentingnya menjaga kualitas moral dan kepribadian bagi seorang guru.

Mengenai kualitas seorang guru, Ibnu Sina mensyaratkan bahwa guru harus berpikiran maju, beragama, berakhlak, berwibawa, berpendirian tetap dan menghargai murid (Ahmad Fuad al-Ahwani, t.th.:231; Abidin Ibnu Rusn, 1998:65).

Keenam, gejala dehumanisasi menunjukkan peningkatan secara signifikan dalam berbagai ranah kehidupan. Pada generasi muda, gejala ini menyebar sedemikian cepat terutama karena secara kejiwaan mereka belum memiliki akar kepribadian yang kukuh. Selain mengajar, tugas penting seorang guru adalah bagaimana membangun watak para siswanya yang humanis. Watak humanis harus ditanamkan secara terus-menerus dalam setiap momentum pembelajaran. Dalam kehidupan yang semakin kompleks seperti sekarang ini, watak humanis akan menjadikan seorang guru menjadi pribadi toleran, pluralis, dan melihat realitas yang multikultur sebagai realitas yang harus dihadapi, bukan ditentang, apalagi sampai menggunakan cara-cara yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Menurut Hamacheek, seperti yang dikutip Soemanto (1998:234-235), mengatakan bahwa guru-guru yang efektif tampaknya adalah guru-guru yang manusiawi (humanis).

Gejala kenakalan pelajar yang semakin menjadi-jadi merupakan tantangan besar untuk mengimplementasikan nilai-nilai humanistik. Kegersangan jiwa, kekerasan nurani, dan hilangnya penghargaan terhadap manusia lain sebagaimana nampak dalam tawuran pelajar adalah manifestasi dari gejala dehumanisasi. Realitas semacam ini harus terus diminimalisir dengan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan secara intensif dan terus-menerus. Dengan demikian, gejala-gejala yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar dapat semakin diminimalisir.

Ketujuh, perkembangan Iptek yang semakin pesat juga mengharuskan seorang guru untuk senantiasa mengikutinya dan memiliki inisiatif yang kreatif. Kondisi ini mengharuskan seorang guru untuk melek informasi dan teknologi. Jangan sampai seorang guru menjadi sosok yang gagap teknologi dan tidak mengikuti dinamika perkembangan teknologi yang berkembang sedemikian pesat.

Terkait dengan kualitas seorang guru, Sutari Imam Barnadib (t.th.:62-64) mensyaratkan seorang guru harus mempunyai kesenangan bekerja sama dengan orang lain dan untuk kepentingan orang lain, sehat jasmani dan rohani, betul-betul berbakat, berkepribadian baik dan kuat, disenangi dan disegani oleh murid, emosinya stabil, tidak lekas marah dan tidak penakut, tenang, objektif dan bijaksana, susila dalam tingkah lakunya, jujur dan adil (Abidin Ibnu Rusn, 1998:65).

Peningkatan kapasitas dan karakter pribadi-sosial ini akan semakin mengukuhkan peran dan fungsinya ketika mengajar. Harus disadari bahwa mengajar merupakan tugas besar dalam kerangka mengantar siswa sebagai bagian dari bangsa untuk menjadi manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, perhitungan untung-rugi dari sisi material-personal tidak memiliki relevansi yang tepat untuk dijadikan tolok ukur dalam mengajar. Mengajar bukan dunia bisnis yang bisa diukur secara kuantitatif dalam hitungan untung atau rugi. Sebab, hal yang lebih penting adalah bagaimana mengajar memiliki implikasi positif dan signifikan bagi peningkatan kualitas dan kapasitas dari para siswanya. Dengan demikian, para siswa akan mampu merubah hidupnya menuju ke arah yang lebih baik. Peningkatan kuallitas hidup tidak bisa diukur secara eksak dan kuantitatif, sebab lebih berkaitan dengan dimensi kualitatif dan perolehan-perolehan yang sulit diukur secara matematis.

Kompetensi Guru, Sangat Perlukah?

Al-Ghazali, seperti yang dikutip Abidin Ibnu Rusn (2009:71), menyatakan bahwa profesi keguruan merupakan profesi yang paling mulia dan paling agung dibandingkan dengan profesi lainnya. Profesi guru sangat menentukan kelangsungan hidup suatu bangsa. Kejayaan atau kehancuran suatu bangsa boleh dikatakan sangatlah bergantung pada keberadaan guru-guru yang membidani lahirnya generasi muda. Alasannya, karena potensi manusia akan mempunyai makna dan dapat memanfaatkan sumber daya alam yang selanjutnya berguna bagi kehidupan manusia, hanya setelah digali melalui pendidikan, dan subyek yang paling berperan secara langsung dalam proses pendidikan adalah guru. Oleh karena itu, seorang guru harus mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi dan senantiasa memperhatikan prinsip-prinsip mengajar seperti kasih sayang, tidak membesar-besarkan kesalahan murid, tidak mengejek atau mencelanya walau hal itu bertujuan mengubah pribadi murid yang tidak baik.

Muhammad Joko Susilo menyatakan bahwa persoalan yang berkenaan dengan guru dan jabatan guru senantiasa disinggung bahkan menjadi salah satu pokok bahasan yang mendapat tempat tersendiri di tengah-tengah ilmu kependidikan yang luas dan kompleks. Perhatian tersebut bertambah besar seiring dengan kemajuan pendidikan dan kebutuhan guru yang semakin meningkat, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya (Harsono & MJ. Susilo, 2010:30). M. Nurdin (2004:57) berpendapat bahwa guru merupakan faktor utama dalam proses pendidikan, walaupun fasilitas pendidikannya lengkap dan canggih. Namun, bila tidak ditunjang oleh keberadaan guru yang berkualitas, maka mustahil akan mewujudkan proses belajar mengajar yang maksimal. Di sinilah pekerjaan rumah yang besar di Indonesia. Sudah fasilitas pendidikannya memprihatinkan, gurunya pun tidak berkualitas, apalagi profesional.

Hal senada diungkapkan bahwa salah satu faktor penentu kualitas pendidikan adalah hadirnya guru yang memiliki kualitas SDM yang tinggi dan memiliki kompetensi profesional keguruan. Jadi, setiap guru sudah seharusnya memiliki kompetensi profesional keguruan dalam jenjang pendidikan apa pun. Selain kompetensi profesional, guru juga harus memiliki kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, dan kompetensi sosial. Secara teoritis, keempat kompetensi guru tersebut dapat dipisahkan satu dengan lainnya, namun dalam praktiknya keempat kompetensi tersebut harus teraplikasikan secara bersama-sama. Guru yang intelektual dan terampil dan terampil mengajar tentu harus pula memiliki kepribadian yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. Keempat kompetensi tersebut terpadu dalam karakteristik tingkah laku guru (Harsono & MJ Susilo, 2010:30-31). Jangan sampai terjadi sebaliknya, guru yang memiliki kecerdasan secara intelektual namun tidak teraplikasikan dalam tingkah laku yang baik. Seperti diungkapkan Toto Tasmara (2008:12) banyak manusia (guru) yang hidup secara jasadi namun mati secara ruhani. Nampak cerdas secara intelektual namun bodoh secara moral spiritual.

UU No. 14 tahun 2005 tentang Undang-Undang Guru dan Dosen pada Bab I Pasal 1 Ayat 1 menjelaskan bahwa guru dan dosen adalah tenaga pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sebagai pendidik profesional, maka guru wajib memiliki kompetensi. Menurut Pasal 1 Ayat 10, UU No. 14 tahun 2005 yang dimaksudkan dengan kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Dalam Pasal 8 UU No. 14 tersebut dinyatakan guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya, dalam Pasal 9 dinyatakan kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat (D4). Dalam Pasal 10, kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Dalam Pasal 20 UU No. 14 tahun 2005 disebutkan bahwa guru berkewajiban: (1) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengavaluasi hasil pembelajaran; (2) meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik sejalan dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni.

Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Untuk dapat menjadi guru yang profesional, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) sesuai dengan bidang kejuruannya dan setiap guru harus memiliki sertifikat sesuai dengan bidang keahlian yang diajarkannya.

Hamalik (2001) menyatakan bahwa menjadi guru adalah suatu pekerjaan profesional, sehingga jabatan ini memerlukan keahlian khusus yang menuntut seorang guru itu harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran serta ilmu-ilmu lainnya, dengan harapan akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan secara otomatis akan mampu menghasilkan output yang baik pula. Hal senada disampaikan Harsono & MJ Susilo (2001:34) yang berpendapat bahwa guru adalah jabatan profesional yang memerlukan berbagai keahlian khusus. Sebagai suatu profesi, jabatan guru menuntut kriteri profesional sebagai berikut:

1. Fisik

  1. Sehat jasmani
  2. Tidak mempunyai cacat tubuh yang bisa menimbulkan ejekan atau cemoohan atau rasa kasihan dari anak didik.

2. Mental/kepribadian

  1. Berkepribadian
  2. Berbudi pekerti luhur
  3. Berjiwa kreatif, dapat memanfaatkan rasa pendidikan yang ada secara maksimal.
  4. Mampu menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa.
  5. Mampu mengembangkan krativitas dan tanggung jawab yang besar akan tugasnya.
  6. Mampu mengembangkan kecerdasan yang tinggi.
  7. Bersifat terbuka, peka dan inovatif.
  8. Menunjukkan rasa cinta terhadap profesinya.
  9. Memiliki sense of humor.

3. Keilmiahan/pengetahuan

  1. Memahami ilmu yang dapat melandasi pembentukan pribadi.
  2. Memahami ilmu pendidikan dan keguruan, serta mampu menerapkannya dalam tugasnya sebagai pendidik.
  3. Memahami, menguasai, serta mencintai ilmu pengetahuan yang akan diajarkan.
  4. Memiliki pengetahuan yang cukup tentang bidang-bidang yang lain.
  5. Senang membaca buku-buku ilmiah.
  6. Mampu memecahkan persoalan secara sistematis, terutama yang berhubungan dengan bidang studi.
  7. Memahami prinsip kegiatan belajar mengajar.

4. Keterampilan

  1. Mampu menyusun bahan pelajaran atas dasar pendekatan struktural, interdisipliner, fungsional, behavior, dan teknologi.
  2. Mampu menyusun Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)
  3. Mampu memecahkan dan melaksanakan teknik-teknik mengajar yang baik dalam mencapai tujuan pendidikan.
  4. Mampu merencanakan dan melaksanakan evaluasi pendidikan.
  5. Memahami dan mampu melaksanakan kegiatan dan pendidikan luar sekolah.

Kompetensi profesional guru, selain berdasarkan pada bakat guru, unsur pengalaman dan pendidikan memegang peranan yang sangat penting. Pendidikan guru, sebagai suatu usaha yang berencana dan sistematis melalui berbagai program yang dikembangkan oleh LPTK dalam rangka usaha peningkatan kompetensi guru.

Apabila keempat kompetensi (profesional, pedagogik, personal, dan sosial) sudah dikuasai oleh guru, maka guru tersebut mampu menjadi sosok teladan bagi siswa dan orang lain. Selama ini proses pembelajaran hanya menekankan pada aspek kognitifnya saja. Namun, dengan adanya tuntutan kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial maka akan tercapai pula afektif, dan psikomotorik pada peserta didiknya.

Tugas dan Tanggung Jawab Guru

a.Tugas Guru

John P. Dececco William Crowfort, dalam bukunya The Psychology of Learning and Instruction Education Educational Psychology, sebagaimana dikutip oleh Marasudin Siregar (1985:8), menyatakan bahwa pendapat Bugelsky, bahwa guru dalam proses pembelajaran berfungsi sebagai motivator (pendorong), reinforce (pemberdaya), dan instructor (pelatih).

Pada tataran parktis, menurut Muhammad Ali, proses pembelajaran yang berlangsung dalam kelas pada dasarnya merupakan interaksi yang berlangsung secara intensif antara guru, siswa, dan materi. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang guru harus melandaskan diri pada prinsip profesionalitas. Prinsip profesionalitas ini dapat diwujudkan dalam beberapa sikap. Pertama, mengajar hanya berdasarkan pengalaman guru yang dimiliki dari siswa. Kedua, pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis. Ketiga, mengajar harus memerhatikan terhadap perbedaan individu siswa. Keempat, mengajar harus berdasarkan kesiapan siswa. Kelima, tujuan pengajaran harus diketahui oleh siswa. Keenam, mengajar harus mengikuti prinsip psikologis tentang belajar (Ngainun Naim, 2009:18).

Mulyasa berpendapat bahwa tugas dan peran guru di dalam masyarakat tidak terbatas, bahkan guru pada hakikatnya merupakan komponen strategi yang memiliki peran penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Bahkan keberadaan guru merupakan faktor condisio sine quanon yang tidak mungkin digantikan oleh komponen mana pun dalam kehidupan bangsa sejak dulu, terlebih-lebih pada era kontemporer ini (Harsono & MJ. Susilo, 2010:49). Mulyasa juga mengidentifikasi tiga jenis tugas guru, yaitu tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan, dan tugas dalam bidang kemasyarakatan. Tugas dalam bidang profesi meliputi: tugas mendidik, mengajar, dan melatih. Tugas kemanusiaan ditunjukkan dengan peran guru sebagai orang tua kedua siswa, transformasi diri, dan autoidentifikasi. Sedangkan tugas dalam bidang kemasyarakatan adalah mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia yang bermoral Pancasila, serta ikut membantu mencerdaskan bangsa Indonesia (Harsono dan MJ. Susilo, 2010:49-50).

b.Tanggung Jawab Guru

Manusia dapat disebut sebagai manusia yang bertanggung jawab apabila dia mampu membuat pilihan dan membuat keputusan atas dasar nilai-nilai dan norma-norma tertentu, baik yang bersumber dari dalam dirinya maupun yang bersumber dari lingkungan sosialnya. Dengan kata lain manusia bertanggung jawab apabila dia mampu bertindak atas dasar keputusan moral atau moral decision (Kirschenbaum & SB Simon).

Sebagai guru profesional maka harus memenuhi persyaratan sebagai manusia yang bertangung jawab dalam bidang pendidikan, tetapi di pihak lain dia juga mengemban sejumlah tanggung jawab dalam bidang pendidikan. Guru selaku pendidik bertanggung jawab mewariskan nilai-nilai dan norma-norma kepada generasi muda sehingga terjadi proses konservasi nilai, bahkan melalui proses pendidikan diusahakan terciptanya nilai-nilai baru. Guru akan mampu melaksanakan tangung jawabnya apabila dia memiliki kompetensi untuk itu. Setiap tangung jawab memerlukan sejumlah kompetensi. Setiap kompetensi dapat dijabarkan menjadi sejumlah kompetensi yang lebih kecil dan lebih khusus.

1) Tanggung Jawab Moral

Elaine B, Johson, seperti yang telah dikutip Ngainun Naim (2009:15) mengatakan: “Guru yang bermutu memungkinkan siswanya untuk tidak hanya dapat mencapai standar nilai akademik secara nasional, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang penting untuk belajar selama hidup mereka”. Inilah kiranya yang menjadikan bahwa tugas guru tidak hanya membuat siswanya cerdas secara intelektual saja namun bagaimana agar siswanya kelak dapat menolong diri dalam kehidupannya melalui pengetahuan yang didapatkannya itu.

Di Indoensia, setiap guru profesional berkewajiban menghayati dan mengamalkan pancasila dan bertanggung jawab mewariskan moral pancasila itu serta nilai Undang-Undang Dasar 1945 kepada generasi muda. Tanggung jawab ini merupakan tanggung jawab moral bagi setiap guru di Indonesia. Dalam hubungan ini, setiap guru harus memiliki kompetensi dalam bentuk kemampuan menghayati dan mengamalkan pancasila. Kemampuan menghayati berarti kemampuan untuk menerima, mengingat, dan meresapkan ke dalam pribadinya.

2) Tanggung Jawab dalam Bidang Pendidikan di Sekolah

Guru bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah dalam arti memberikan bimbingan dan pengajaran kepada siswanya. Tanggung jawab ini direalisasikan dalam bentuk melaksanakan pembinaan kurikulum, menuntun siswa belajar membina pribadi, watak, dan jasmaninya, menganalisis kesulitan belajar, serta menilai kemajuan belajar mereka. Agar guru mampu mengemban dan melaksanakan tanggung jawab ini, maka setiap guru harus memiliki berbagai kompetensi yang relevan dengan tugas dan tanggung jawab tersebut. Dia harus menguasai cara belajar efektif, harus mampu membuat model satuan pelajaran, mampu memahami kurikulum secara baik, mampu mengajar di kelas, mampu menjadi model bagi siswa, mampu memberikan nasihat dan petunjuk yang berguna, menguasai teknik-teknik, memberikan bimbingan dan penyuluhan, mampu menyusun dan melaksanakan prosedur penilaian kemajuan belajar, dan sebagainya.

Terkait dengan kompetensi penguasaan cara-cara belajar yang baik, misalnya, maka setiap guru berarti harus berkompeten memberikan petunjuk tentang bagaimana membuat rencana belajar, berkompeten memberikan petunjuk tentang bagaimana mempelajari buku bacaan dan cara membaca yang efisien, cara menghafal, cara menilai sendiri, dan sebagainya. Lalu terkait dengan kompetensi dalam pembinaan kurikulum sekolah, berarti guru harus berkompeten menerjemahkan GBPP menjadi satuan-satuan pembelajaran sesuai dengan bidang studi yang menjadi tugasnya, berkompeten dalam hal cara menerapkan berbagai metode mengajar yang relevan untuk mencapai tujuan instruksional khusus, berkompeten menyusun pertanyaan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, berkompeten merelevansikan bahan pelajaran dengan kebutuhan /masalah-masalah sosial dengan lingkungannya, dan sebagainya.

3) Tanggung Jawab Guru dalam Bidang Pendidikan

Guru profesional tidak dapat melepaskan dirinya dari bidang kehidupan kemasyarakatan. Di satu pihak guru adalah warga masyarakat dan di lain pihak guru bertanggung jawab turut serta memajukan kehidupan masyarakat. Guru turut bertanggung jawab memajukan kesatuan dan persatuan bangsa, menyukseskan pembangunan nasional, serta menyukseskan pembangunan daerah, khususnya yang dimulai dari daerah di mana dia tinggal.

Untuk melaksankan tanggung jawab turut serta memajukan persatuan dan kesatuan bangsa, guru harus menguasai atau memahami semua hal yang bertalian dengan kehidupan nasional misalnya tentang suku bangsa, adat istiadat, kebiasaan, norma-norma, kebutuhan, kondisi lingkungan dan lain sebagainya. Selain itu, guru harus mampu bagaimana menghargai suku bangsa lainnya, menghargai sifat dan kebiasaan suku lain, dan lain sebagainya. Pengetahuan dan sikap hendaknya dicontohkannya terhadap anak didik dalam pergaulannya sehari-hari dan dalam proses pendidikan di sekolah.

Sedangkan untuk melaksanakan tanggung jawab turut serta menyukseskan pembangunan dalam masyarakat, guru harus kompeten bagaimana cara memberikan pengabdian terhadap masyarakat, kompeten bagaimana melaksanakan kegiatan gotong royong di desanya, mampu bertindak turut serta mejaga tata tertib di desanya, mampu bertindak dan memberikan bantuan kepada yang miskin, pandai bergaul dengan masyarakat sekitarnya dan sebagainya.

4) Tanggung Jawab dalam Bidang Keilmuan

Ikhwanush Shaffa, seperti yang dikutip Abidin Ibn Rusn (2009:65), mengatakan bahwa guru yang bisa membahagiakan murid ialah mereka yang pintar, bagus perangainya dan akhlaknya, suci hatinya, cinta terhadap ilmu, senantiasa mencari kebenaran, dan tidak memihak kepada salah satu mazhab. Hal ini mengandung pengertian bahwa guru senantiasa mengajarkan akan sebuah kebenaran yang didapatkan melalui metode-metode ilmiah.

Guru selaku ilmuan bertanggung jawab turut memajukan ilmu, terutama ilmu yang telah menjadi spesialisasinya. Tanggung jawab ini dilaksanakan dalam bentuk mengadakan penelitian dan pengembangan. Untuk dapat melaksanakan tanggung jawab dalam bidang penelitian, guru harus memiliki kompetensi tentang cara mengadakan penelitian, seperti cara membuat desain penelitian, cara merumuskan masalah, cara menentukan alat pengumpul data, cara mengdakan sampling dan cara mengolah data dengan teknik statistik yang sesuai. Selanjutnya, dia harus mampu menyusun laporan hasil penelitian agar dapat disebarluaskan. Demikianlah dari analisis tersebut kiranya kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru profesional sesungguhnya sangat luas jika ditinjau dalam hubungan dengan tanggung jawab profesionalnya.

Terkait dengan kompetensi pengetahuan guru, Haberman berpendapat bahwa pengetahuan guru paling tidak memiliki 12 komponen yang menggambarkan seorang guru yang baik, yaitu: keterampilan, etika, disiplin ilmiah, konsep-konsep dasar, pelajar/siswa, suasana sosial, belajar, pedagogik atau metodologi pengajaran, proses, teknologi, pengembangan diri, dan perubahan/inovasi. Keduabelas komponen tersebut harus ditindaklanjuti oleh guru dengan seoptima mungkin (Harsono & MJ. Susilo, 2010:55-67).

Sertifikasi Guru: Upaya Mensejahterakan dan Menjamin Kualitas Guru

1. Kesejahteraan Guru

Pemerintah Indonesia sebenarnya jauh hari sudah mengisyaratkan akan memberlakukan sertifikasi bagi guru. Hal ini terdapat dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program pembangunan nasional yang berisi pembentukan badan akreditasi dan sertifikasi mengajar di daerah. Tujuan dikeluarkan undang-undang tersebut sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas tenaga kependidikan secara nasional.

Terkait dengan sertifikasi, negara maju seperti Amerika telah lebih dahulu memberlakukan uji sertifikasi terhadap guru. Melalui badan independen yang disebut The American Association of Colleges for Teacher Education (AACTE). Badan tersebut berwenang menilai dan menentukan ijasah yang dimiliki calon pendidik, layak atau tidak layak untuk diberi lisensi pendidik (Mansur Muslich, 2007:4).

Sertifikasi guru ternyata juga diberlakukan di negara Asia. Di Cina telah memberlakukan sertifikasi guru sejak tahun 2001. Begitu juga di Filipina dan Malaysia belakangan juga telah mensyaratkan kualifikasi akademik minimum dan standar kompetensi bagi guru.

Jepang ternyata juga sudah memberlakukan sertifikasi guru selama 33 tahun. Sejak tahun 1974, diyakini pemerintah Jepang bahwa kemajuan bangsanya harus diawali dari dunia pendidikan, syaratnya tentu saja mereka harus memiliki guru-guru yang berkualitas. Perhatian pemerintah Jepang terhadap guru sangat besar. Setelah Jepang harus hancur akibat bom tentara sekutu pada tahun 1945, yang pertama dicari adalah para guru yang hidup. Kemudian, setelah diberlakukan sertifikasi guru, seorang guru di Negara Matahari ini mendapat pengahasilan yang relatif besar. Kabarnya, seorang guru dapat menabung senilai uang Indonesia 8 juta rupiah setiap bulan (tahun 2000) sekarang mungkin sekitar 20 jutaan lebih tiap bulannya. Asumsinya dengan gaji yang demikian besar ini guru bisa mendapatkan penghidupan yang layak sekaligus bisa meningkatkan kualitas diri sebagai pendidik.

Lalu, jika dibandingkan dengan gaji guru di Indonesia, guru hanya menerima rata-rata sekitar 1,5 juta rupiah sebulan, dapat kurang atau lebih sedikit. Jadi, dengan gaji yang diterima, ada sebagian guru yang beranda “bagaimana dapat menabung, untuk keperluan hidup saja sudah habis selepas tengah bulan?” itu guru yang berstatus negeri, nah bagaimana yang berstatus swasta? Sungguh ironi bukan?. Sebagian guru mengakui ada yang mencari objekan di luar tugas mengajar, seperti menjadi guru privat, menjadi tukang ojek, menjadi abang becak, yang lebih seru lagi harus menjadi langganan tukang kredit di warung, dan lain-lain. Tidak dapat dipungkiri, guru juga menjadi langganan mengambil kredit di bank untuk keperluan perbaikan rumah, anak sekolah, kredit sepeda motor, dan lain-lain.

Melihat nasib dan kesejahteraan guru yang memprihatinkan itulah, pemerintah Indonesia ingin memberikan reward berupa pemberian tunjangan profesional yang berlipat dari gaji yang diterima. Harapan ke depan adalah tidak ada lagi guru yang mencari objekan di luar tugas mengajar karena kesejahteraan hidupnya sudah terpenuhi. Akan tetapi, syaratnya tentu saja guru harus lulus ujian sertifikasi, baik guru yang mengajar di sekolah TK, SD, SMP, SMA, maupun PT. baik di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional maupun di lingkungan Departemen Agama RI (Pendidikan Islam).

2. Jaminan Kualitas Guru

Adakah jaminan bahwa sertifikasi akan meningkatkan kualitas kompetensi guru? Ada beberapa hal yang perlu untuk dikaji secara mendalam untuk memberikan jaminan bahwa sertifikasi akan meningkatkan kualitas kompetensi guru.

Pertama, dan sekaligus yang utama, sertifikasi merupakan sarana atau instrumen untuk mencapai suatu tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu ada kesadaran dan pemahaman dari semua fihak bahwa sertifikasi adalah sarana untuk menuju kualitas. Sertikasi bukan tujuan itu sendiri. Kesadaran dan pemahaman ini akan melahirkan aktivitas yang benar, bahwa apapun yang dilakukan adalah untuk mencapai kualitas. Kalau seorang guru kembali masuk kampus untuk kualifikasi, maka belajar kembali ini untuk mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, sehingga mendapatkan ijazah S-1. Ijazah S-1 bukan tujuan yang harus dicapai dengan segala cara, termasuk cara yang tidak benar melainkan konsekuensi dari telah belajar dan telah mendapatkan tambahan ilmu dan ketrampilan baru. Demikian pula kalau guru mengikuti uji sertifikasi, tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi, melainkan untuk dapat menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana disyaratkan dalam standard kemampuan guru. Tunjangan profesi adalah konsekuensi logis yang menyertai adanya kemampuan yang dimaksud. Dengan menyadari hal ini maka guru tidak akan mencari jalan lain guna memperoleh sertifikat profesi kecuali mempersiapkan diri dengan belajar yang benar untuk menghadapi uji sertifikasi.

Kedua, konsistensi dan ketegaran pemerintah. Sebagai suatu kebijakan yang merentuhan dengan berbagai kelompok masyarakat akan mendapatkan berbagai tantangan dan tuntutan. Paling tidak tuntutan dan tantangan akan muncul dari 3 sumber. Sumber pertama adalah dalam penentuan lembaga yang berhak melaksanakan uji sertifikasi. Berbagai lembaga penyelenggara pendidikan tinggi, khususnya dari fihak Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Swasta akan menuntut untuk diberi hak menyelenggarakan dan melaksanakan uji sertifikasi. Demikian juga, akan muncul tuntutan dari berbagai LPTK negeri khususnya di daerah luar jawa akan menuntut dengan alasan demi keseimbangan geografis. Tuntutan ini akan mempengaruhi penentuan yang mendasarkan pada objektivitas kemampuan suatu perguruan tinggi. Ketegaran dan konsistensi pemerintah juga diperlukan untuk menghadapi tuntutan dan sekaligus tantangan bagi pelaksana Undang-Undang yang muncul dari kalangan guru sendiri. Mereka yang sudah senior atau mereka para guru yang masih jauh dari pensyaratan akan menentang dan menuntut berbagai kemudahan agar bisa memperoleh sertifikat profesi tersebut.

Ketiga, tegas dan tegakkan hukum. Dalam pelaksanaan sertifikasi, akan muncul berbagai penyimpangan dari aturan main yang sudah ada. Adanya penyimpangan ini tidak lepas dari adanya upaya berbagai fihak, khususnya guru untuk mendapatkan sertifikat profesi dengan jalan pintas. Penyimpangan yang muncul dan harus diwaspadai adalah pelaksanaan sertifikasi yang tidak benar. Oleh karenanya, begitu ada gejala penyimpangan, pemerintah harus segera mengambil tindakan tegas. Seperti mencabut hak melaksanakan sertifikasi dari lembaga yang dimaksud, atau menetapkan seseorang tidak boleh menjadi penguji sertifikasi, dan lain sebagainya.

Keempat, laksanakan UU secara konsekuen. Tuntutan dan tantangan juga akan muncul dari berbagai daerah yang secara geografis memiliki tingkat pendidikan yang relatif tertinggal. Kalau UUGD dilaksanakan maka sebagian besar dari pendidik di daerah ini tidak akan lolos sertifikasi. Pemerintah harus konsekuen bahwa sertifikasi merupakan standard nasional yang harus dipatuhi. Toleransi bisa diberikan dalam pengertian waktu transisi. Misalnya, untuk Jawa Tengah transisi 5 tahun, tetapi untuk daerah yang terpencil transisi 10 tahun. Tetapi standard tidak mengenal toleransi.

Kelima, pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyediakan anggaran yang memadai, baik untuk pelaksanaan sertifikasi maupun untuk pemberian tunjangan profesi.

 

SIMPULAN

Dari paparan di atas kiranya dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, guru adalah salah satu sumber belajar bagi siswa yang sangat urgent. Kehadiran guru –saat ini- masih menjadi figur penentu dalam keberhasilan suatu proses pembelajaran. Mengingat sangat pentingnya peran guru dalam proses pembelajaran, merupakan upaya yang ‘harus’ dilakukan untuk selalu meningkatkan kualitas keguruaannya (profesionalisme). Kualitas tersebut sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Guru dan Dosen (UU No. 14 Tahun 2005) adalah penguasaan empat kompetensi guru, yang meliputi: kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi personal, dan keompetensi sosial.

Kedua, supaya ada semangat peningkatan diri yang kuat, peningkatan guru melalui berbagai usaha (salah satunya dengan mengikuti pendidikan ke jenjang lebih tinggi) harus diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan dalam kehidupan ekonomi guru. Jangan sampai guru selalu dituntut untuk berkualitas namun penghargaan finansial terhadap guru masih minim.

Ketiga, menjadi guru adalah pilihan hidup yang mulia, dimana dengan menjadi guru seseorang dapat memberikan bekal bagi orang lain untuk mandiri dan sekaligus bisa menolong diri mereka sendiri di kemudian hari. Namun dalam pilihan hidup yang mulia ini harus diimbangi dengan niat tulus yang terejawantahkan dalam bentuk kinerja guru yang optimal. Ath-thariqoh ahammu minal maddah, wal mudarris ahammu minath- thoriqoh, wa ruhul mudarris ahammu minal mudarris.

 

DAFTAR PUSTAKA

A. Sahertian, Piet. 1998. Profil Pendidik Profesional. Yogyakarta: Andi Offset.

al-Ahwani, Ahmad Fuad. tt. At Tarbiyat fi al Islam. Darul Ma'arif.

Al-Ghazali. 1991. Ayyuha al-Walad. Pentj. A. Mujab Mahalli. Jakarta: Gema Insani Press

Aprinalistia. 2007. Sekolah, Bukan Segalanya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Harsono & MJ Susilo. 2010. Pemberontakan Guru: Menuju Peningkatan Kualitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ibnu Rusn, Abidin. 2009. Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Imam Barnadib, Sutari. tt. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. tp.

Joko Susilo, Muhammad. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muslich, Mansur. 2007. Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik, Jakarta : Bumi Aksara.

Naim, Ngainun. 2009. Menjadi Guru Inspiratif; Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nurdin, Muhammad. 2004. Kiat Menjadi Guru Profesional. Yogyakarta: Media Ar-Ruzz.

Siregar, Marasudin. 1985. Didaktik Metodik dan Kedudukan dalam Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta: Sumbangsih.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Sutrisno. 2005. Revolusi Pendidikan di Indonesia: Membedah Metode dan Teknik Pendidikan Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Media Ar-Ruzz.

Tasmara, Toto. 2008. Membudayakan Etos Kerja Islami. Jakarta: Gema Insani Press.

Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS.



* Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan, Jl. Kusumabangsa No. 9 Pekalongan, e-mail: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it