Fakultas Tarbiyah & Ilmu Keguruan | IAIN Pekalongan

PENGUATAN KOMPETENSI PEDAGOGIS SEBAGAI SALAH SATU ARAH PENGEMBANGAN KEILMUAN BAHASA ARAB DI PRODI PBA STAIN PEKALONGAN

E-mail Print PDF

PENGUATAN KOMPETENSI PEDAGOGIS SEBAGAI SALAH SATU ARAH PENGEMBANGAN KEILMUAN BAHASA ARAB DI PRODI PBA STAIN PEKALONGAN
Oleh: Muhamad Jaeni, M.Pd, M.Ag•


A.Pendahuluan
Seperti ilmu-ilmu lainnya, ilmu bahasa memiliki cabang keilmuan yang beragam. Sehingga kajian kebahasaan dapat dikatakan cukup luas dan sangat komplek. Secara umum, para ahli bahasa mengkatagorikan ilmu bahasa kepada dua cakupan kajian. Pertama; ilmu bahasa teoritis ('Ilm al-Lughah an-Nadhary). Ilmu ini mengkaji bidang kebahasaan yang bersifat konseptual-teoritis. Dasar-dasar ilmu bahasa seperti kaitannya dengan sistem bunyi, bentuk kata, struktur kalimat, diksi dan gaya bahasa, serta yang lainnya masuk pada kajian-kajian kebahasaan teoritis. Banyak dari sebagaian masyarakat hanya memahami kajian bahasa hanya pada sebatas teoritis ini. Sehingga belajar bahasa tidak ubahnya hanya belajar Nahwu, Sharaf, dan balaghah. Sekalipun pada tataran ini pun sebagian mereka juga masih kesulitan untuk mengerti dan menguasainya. Kedua: ilmu bahasa terapan ('Ilm al-Lughah at-Tathbiqy). Kajian ini fokus kepada kajian kebahasaan yang dapat diaplikasikan pada objek tertentu atau dilakukan di lapangan tertentu. Kajian mengenai pemerolehan bahasa, perkembangan bahasa anak, pengalihan dari bahasa satu (B1) ke bahasa kedua (B2), kajian tentang interferensi bahasa, dialek, pendekatan dan teknik pembelajaran bahasa, serta kajian-kajian lainnya dapat dikatagorikan pada ilmu bahasa terapan (applayed linguistic).
Seiring dengan berkembangan cabang ilmu linguistik, dengan sendirinya ilmu-ilmu tersebut menjadi satu disiplin ilmu tersendiri dan tentunya membutuhkan kajian-kajian tersendiri. Karena semua disiplin dari cabang ilmu linguistik itu tidak mungkin dapat dipelajari semua, maka pada tataran institusi keilmuan juga membagi diri dengan fokus pada sebagaian cabang linguistik tersebut. Sehingga, yang paling mudah dikenali pada tingkat fakultas atau jurusan di sebuah perguruan tinggi dikenal adanya jurusan bahasa murni dan jurusan pendidikan bahasa. Orientasi serta kajian dari dua jurusan ini jelas berbeda sekalipun pada beberapa kajian ada yang sama. Kalau di PTAI misalnya, terdapat jurusan Sastra Arab (SA) yang fokus pada kajian kebahasaan teoritis dan juga naskah serta teks-teka kuno, seperti syair-syair Arab kuno, serta yang lainnya. Di PTAI, Biasanya jurusan ini masuk pada fakultas Adab. Sementara di fakultas yang lain terdapat jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) yang orientasi kajian keilmuannya ditekankan tidak hanya pada kajian kebahasaan teoritis tetapi juga tetapi juga diarahkan kepada keilmuan yang berorientasi kepada kompetensi pedagogis. Hal ini dikarenakan lulusan PBA akan diproyeksikan untuk menjadi guru-guru bahasa Arab di tingkat dasar dan menengah. Oleh karena itu, jurusan PBA dimasukan pada fakultas Tarbiyah (kependidikan).
Dari sini, penulis dapat menyimpulkan bahwa keilmuan PBA diorientasikan kepada sebagian ilmu-ilmu bahasa teoritis dan juga sekaligus mengkaji ilmu-ilmu bahasa terapan. Dengan demikian perumusan keilmuan di PBA harus lebih cermat, hal ini dikarenakan perlunya keseimbangan antara ilmu-ilmu yang dapat mendukung kompetensi profesional dan juga ilmu-ilmu yang mendukung pada penguatan kompetensi pedagogis. Namun demikian, penulis masih melihat banyaknya susunan kurikulum PBA yang ada di beberapa fakultas Tarbiyah, masih simpang siur, atau belum jelas arahnya. Ada yang lebih dominan pada kajian-kajian teoritis, pada sebagian yang lain lebih dominan pada kompetensi pedagogis, tidak terkecuali di Prodi PBA STAIN Pekalongan. Di samping itu, posisi prodi PBA dalam konteks keilmuan bahasa seperti yang sudah disinggung di atas harus betul-betul dipahami oleh semua civitas akademik dari mulai dosen, pegawai dan juga mahasiswa. Sehingga segala apa yang dilakukan mereka dalam kegiatan akademik terfokus kepada arah keilmuan bahasa yang dikembangkan. Lebih jauh dari itu, prodi PBA harus betul-betul dipahami sebagai prodi yang bertujuan mencetak calon-calon guru bahasa Arab di tingkat dasar dan menengah. Sehingga penguatan kompetensi pedagogis harus betul-betul diperhatikan dalam muatan kurikulum dan juga proses pembelajarannya. Dengan demikian, setiap mata kuliah yang terkai dengan ilmu pendidikan tidak menutup kemungkinan untuk ditekankan kepada praktik pembelajaran di dalam kelas. Sementara itu, praktik mengajar di dalam kampus yang seringkali disebut sebagai micro teaching hanya dilakukan satu kali selama mahasiswa menempuh perkuliahan. Padahal kegiatan praktik mengajar seperti ini semestinya dilakukan beberapa kali sebelum para mahasiswa itu diterjunkan ke sekolah/ madrasah untuk melaksanakan PPL atau praktik mengajar.
Permasalahan lain yang selama ini terjadi adalah belum terbentuknya iklim akademis yang dapat mendukung perkembangan bahasa sehingga pada gilirannya dapat mewujudkan lingkungan berbahasa (bi'ah lughawiyah). Sebenarnya, salah satu program unggulan bahasa Arab melalui Program Pembelajaran Bahasa Arab Intensif (PPBAI) harus dapat dijadikan langkah awal yang tidak hanya sebagai proses pembelajaran tetapi juga sebagai wahana untuk membentuk iklim akademik yang menghidupkan suasana berbahasa asing di dalam kampus. Prodi PBA sebagai salah satu prodi yang ditugaskan melahirkan calon-calon guru bahasa Arab, tentunya harus memiliki dosen-dosen yang tidak hanya menguasai pengetahuan bahasa Arab tetapi juga harus memiliki kemampuan metodologis-pedagogis. Oleh karena itu, kiranya penting dosen-dosen bahasa Arab diberikan pelatihan mengenai metodologi pembelajaran yang lebih variatif. Kemampuan metodologis tersebut tidak hanya semata digunakan untuk dirinya dalam proses pembelajaran tetapi juga segala apa yang dipraktika di dalam kelas akan ditransformasikan sekaligus diamati dan ditiru oleh para mahasiswa.

B.Peta Keilmuan Bahasa Arab
Peta keilmuan bahasa Arab ini sangat penting dipahami terutama oleh civitas akademik yang ada di jurusan Tarbiyah seperti Ketua Jurusan, Ketua Prodi PBA, Dosen-dosen bahasa Arab, Staf Pegawai, dan mahasiswa PBA secara keseluruhan. Hal ini sangat disadari disamping itu sebagai sebuah pengetahuan dasar juga kesepahaman ini paling tidak dapat membantu proses pendidikan di prodi PBA lebih fokus dan terarah. Pengertian Ilmu Lughah (ilmu bahasa) tidak hanya dipahami sebagai ilmu yang mengkaji satu jenis bahasa tertentu atau mengkaji beberapa jenis bahasa asing, akan tetapi ia juga mengkaji ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan bahasa baik itu yang berisfat teoritis maupun terapan. Dan ilmu-ilmu ini memiliki istilah dan nama-nama tersendiri sehingga ini semua dapat memudahkan bagi para pengkaji ilmu bahasa dalam mempelajarinya. Selain nama Ilmu Lughah, terdapat istilah lain yang sering dipakai seperti al-Lisaniyat, al-Lughawiyat, dan Fiqhu al-Lughah. Namun demikian, untuk istilah yang terakhir sebagian pakar bahasa kurang sependapat jika pengertiannya disepadankan dengan ilmu lughah, hal ini dikarenakan Fiqhu al-Lughah pada pembahasannya lebih banyak membahas atau mengkaji teks-teks kuno serta membicarakan ilmu-ilmu kesejarahan bahasa. Oleh karena itu, istilah Fiqhu al-Lughah lebih cenderung dipahami sebagai ilmu yang sering disebut dengan Filologi. Sementara itu, pengertian Ilmu Lughah, dalam bahasa Inggris diartikan sebagai Lingustik, atau Linguistique dalam bahasa Prancis, dan kedua istilah ini merupakan bentukan derivatif dari bahasa latin, Lingua. Semenatara itu, wilayah kajian ilmu bahasa dapat meliputi beberapa bidang, di antaranya adalah: Pertama: Kajian bunyi yang memunculkan sebuah bahasa. Kajian ini meliputi penjelasan tentang perangkat suara atau bunyi yang dimiliki oleh manusia, juga mengetahui tempat-tempat pengucapan bunyi yang ada di dalamnya, menjelaskan tempat-tempat keluar bunyi suara pada masing-masing perangkat bunyi tersebut, serta mengkatagorikan bunyi-bunyi huruf dan menjelaskannya pada karakteristik-karakteristik bunyi tertentu. Kajian ini juga membahas mengenai posisi-posisi penghentian bunyi suara, tekanan suara dan intonasi dalam ujaran, serta mengkaji kaidah-kaidah bunyi yang tersebunyi di balik pergantian dan perubahan bunyi-bunyi suara. Semua kajian di atas merupakan bagian khusus dari beberapa cabang kajian ilmu bahasa. Kajian ini dalam bahasa Arab biasa disebut dengan " Ilmu al-ashwat". Kedua: Kajian bentuk kata atau membahas kaidah-kaidah yang dengan pembentukan kata dan derivasinya. Dan juga membahas perubahan kata yang dapat melahirkan makna-makna yang berbeda. Kajian yang semacam ini, orang-orang Arab menyebutnya dengan "'Ilmu al-Shorf" . Ketiga: Kajian susunan kalimat dari segi susunan komponen-komponen yang ada di dalamnya, serta pengaruh serta hubungan antara komponen satu dan komponen lainnya serta mengkaji bagaimana ikatan atau keterkaitan dari komponen-komponen tersebut. Pembahasan-pembahasa semacam ini, orang-orang Arab memasukannya dalam kajian "'Ilmu an-Nahw". Keempat: Kajian makna kata, serta mengkaji hubungan makna yang satu dengan makna-makna yang lainnya, makna hakiki dan majazi, perkembangan makna, membahas tentang relasi makna seperti at-Taraduf, Musytarak Lafdhy, al-Adhad, dan yang lainnya. Demikian juga kajian ini membahas tentang perkembangan kata dari waktu ke waktu. serta memperhatikan perubahan bunyi dan makna, mengkaji penyebab-penyebab terjadinya perkembangan dan ketetapan kata serta faktor-faktor yang menyebabkan suatu kata itu menjadi usang dan hilang (tidak digunakan lagi). Kelima: Kajian tentang perkembangan bahasa manusia. Dalam hal ini banyak teori yang beragam yang menjelaskan kepada kita bagaimana manusia pertama berbicara mengunakan bahasa, dan ini dapat dilihat dari masa ke masa, hingga bentuk anake macam bahasa itu sampai kepada kita seperti yang bisa dilihat saat ini. Keenam: Kajian entang hubungan bahasa dengan kondisi sosial masyarakat dan kondisi psikologis manusia itu sendiri. Dalam hal ini terdapat dua ilmu, yaitu ilmu sosial dan ilmu psikologi. Pembahasan ini mengkaji tentang penjelasan-penjelasan hubungan bahasa dengan manusia dalam kehidupan sosial, serta menjelaskan pengaruh sistem kebudayaan masyarakat, kesejarahan serta lingkungan di dalam beberapa fenomena kebahasaan Ketujuh: penbahasan tentang bahasa dan perkembanganya yang dilihat dari bebarapa segi; bunyi, bentuk bahasa (morfem), makna (semantik), susunan kata dalam kalimat (sintax), dan lain sebagainya. Demikian juga dalam pembahasan bahasa, terdapat kajian mengenai macam atau jenis bahasa (as-shira' al-lughawy) yang kemudian dikatagorikan kepada beberapa dialek, lalu berikutnya menkaji masing-masing dialek bahasa tersebut, serta menyusun bahasa serta dialek yang memiliki kemiripan, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Muhammad 'Ali al-Khully membagi kajian Ilmu bahasa kepada dua bagian, yaitu ilmu bahasa teoris ('ilmu al-lughah an-nadhary) dan ilmu bahasa terapan ('ilmu al-lughah at-tathbiqy). Ilmu bahasa teoritis terbagi kepada beberapa ilmu, yaitu; ilmu bunyi ('ilmu al-ashwat). Morfologi ('ilmu as-sharf), sintaksis ('ilmu an-nahw), balaghah ('ilmu al-uslub), semantik ('ilmu ad-dilalah). Adapun ilmu bahasa sebagai ilmu terapan meliputi: psikolinguistik (ilmu al-lughah an-nafsy), sosiolinguistik ('ilmu al-lughah al-ijtima'iy), ilmu metodologi pembelajaran bahasa Arab ('lmu manahiji ta'limi al lughah). Sementara itu, ada juga pendapat dari pakar bahasa yang lain yang memasukan ilmu penerjamahan ('ilmu at-tarjamah) dan historiolinguistik (ilmu al-lughah at-tarikhy) masuk dalam kajian ilmu bahasa terapan. Pakar lain, seperti Suparno membagi cakupan linguistik atau ilmu bahasa kepada dua lingkup kajian yaitu, lingkup mikrolinguistik dan lingkup makrolinguistik. Mikrolinguistik adalah lingkup linguistik yang mempelajari bahasa dalam rangka kepentingan ilmu bahasa itu sendiri, tanpa mengaitkan dengan ilmu lain dan tanpa memikirkan bagaimana penerapan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mikrolinguitik ini meliputi bidang dan subdisiplin, yaitu; pertama; Teori-teori Linguistik yang meliputi; (a) Teori Tradisional; (2) Teori struktural; (3) Teori Transformasi; (4) Teori Tagmemik. Kedua; Linguistik Historis/ Historis-Komparatif. Ketiga; Perbandingan Bahasa (lingusitik komparatif dan Kontrastif). Keempat; Deskripsi bahasa yang meliputi; (a) Fonetik; (b) Fonemik; (c) Morfologi; (d) Sintaksis; (e) Semantik; (f) Morfosintaksis; dan (g) Leksikologi.
Adapun makrolinguistik adalah lingkup linguistik yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan dunia di luar bahasa, yang berhubungan dengan ilmu lain dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Makrolinguistik meliputi bidang linguistik interdisipliner dan bidang linguistik terapan. Bidang linguistik interdisipliner meliputi beberapa subdisiplin/ subbidang, yaitu; (1) Fonetik Interdisipliner; (b) Sosiolinguistik; (c) Psikolinguistik; (d) Etnolinguistik; (e) Antropolinguistik; (f) Filologi; (g) Stilistik; (h) Semiotik; (i) Epigrafi; (j) Paleografi; (k) Etologi; (l) Etimologi; (m) Dialektologi. Sementara bidang linguistik terapan meliputi beberapa subbidang/ subdisiplin, yaitu; (a) Fonetik Terapan; (b) Perencanaan Bahasa; (c) Pembinaan Bahasa; (d) Pengajaran Bahasa; (e) Penerjamahan; (f) Grafonomi atau Ortografi; (g) Grafologi; (h) Leksikografi; (i) Mekanolinguistik; (j) Medikolinguistik; (k) Sosiolinguistik Terapan (Pragmatik). Sementara itu, Abdul Majid membagi ilmu bahasa sebagai ilmu kajian modern kepada dua bagian.

 

pak_afit.jpgNamun demikian, pada perkembanganya, ilmu bahasa mengalami perambahan wilayah kajian melalui pengkombinasian dengan kajian ilmu-ilmu lain. Sehingga lahirlah kajian-kajian ilmu lain seperti Antropolinguistik, Neurolinguistik, Pragmatik, dan lain sebagainya. Untuk jenis ilmu yang terakhir, Mahmud Sulaiman memasukannya kedalam ilmu bahasa terapan sejajar dengan Psikolinguistik dan Sosiolinguistik.
Dari pemetaan keilmuan bahasa di atas, tampak jelas bahwa kajian ilmu bahasa di Prodi PBA masuk kepada kajian ilmu bahasa terapan atau makrolinguistik terapan sejajar dengan Psikolinguistik, Sosiolinguistik, Historiolinguistik, Pragmatik dan Tarjamah. Sekalipun beberapa kajian ilmu yang terdapat dalam ilmu bahasa teoritis harus tetap dikuasai, seperti fonetik, sintaksis, morfologi, stailistik, dan semantik. Namun demikian asumsi awal pengetahuan ilmu teoritis bagi mahasiswa PBA sudah selesai dikuasai dan kalaupun dipelajari itu sifatnya hanyalah pendalaman dan pengembangan. Oleh karena itu, PBA sebagai salah satu Prodi yang mengembangkan ilmu terapan tentunya dituntut untuk dapat menyajikan kurikulum yang berorientasi pada skill dan keterampilan dan juga praktik serta latihan menjadi core dari proses pembelajarannya. Sebagai ilmu bahasa terapan juga harus lebih ditekankan kepada kemampuan metodologis dalam pembelajaran sebagai salah satu bagian dari unsur kemampuan pedagogis dari mahasiswa kependidikan.


C.Penguatan Kompetensi Pedagogis Mahasiswa PBA
Seperti dimaklumin bahwa, seorang pendidik atau calon pendidik paling tidak harus meiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogis secara garis besar dap dipahami sebagai kemampuan guru atau calon guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Seperti halnya guru harus mampu membuat dan menyiapkan perengkat pembelajaran seperti silabus, RPP, SAP, media ajar, dan lain sebagainya. Guru dan calon guru juga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menggunakan metode pembelajaran yang variatif. Di sinilah pentingnya seorang guru atau calon guru yang harus terampil dalam menyampaikan materi ajar. Sangatlah disadari kalau dalam bahasa Arab ada adagium yang menyatakan " at-Thariqah ahammu minam madah ", metode lebih penting dari pada materi. Hal ini menunjukan sebanyak apapun materi yang dimiliki atau dikuasai oleh seorang guru tidak akan memiliki arti apa-apa kalau tidak bisa ditransformasikan kepada para anak didiknya. Sehingga jelaslah bahwa dalam kurikulum jurusan kependidikan harus sarat dengan mata kuliah yang mendukung pencapaian kompetensi pedagogis bagi mahasiswa keguruan, tidak terkecuali mahasiswa PBA jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan.
Beberapa mata kuliah seperti Ilmu Pendidikan, Filsafat Pendidikan, Psikologi Pendidikan, Perencanaan Pembelajaran bahasa Arab, Media Pembelajaran bahasa Arab, Pengembangan dan Telaah Kurikulum Bahasa Arab, Teknologi Pendidikan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab, Psikologi perkembangan, Psikolinguistik, Microteaching, dan yang lainnya merupakan mata kuliah yang sangat penting dalam membentuk kompetensi pedagogis mahasiswa PBA. Terutama beberapa mata kuliah yang proses pembelajarannya membutuhkan praktik langsung pada mahasiwa. Mata kuliah metode pembelajaran bahasa Arab dapat menjadi inti dalam penguasaan kompetensi pedagogis. Oleh karena itu, pada praktiknya muatan atau isi dalam mata kuliah tersebut harus lebih inovatif dan variatif.
Pengenalan metode pengajaran jangan hanya sebatas metode-metode lama atau kuno seperti Thariqatu an-Nahwi wa al-Qawa'id, at-Thariqah al-Mubasyirah, atau metode Audio Lingual (at-Thariqah as-Sam'iyah as-Syafawiyah) yang saat ini sudah hamir habis masa kehebatannya, tetapi semestinya pengetahuan metode ini harus berkembang kepada metode yang membawa paham-paham baru yang akhir-akhir ini sedang menjadi bahan perbincangan di Amerika dan Eropa dan juga jarang terdengar diterapkan dalam pembelajaran bahasa Arab. Sebut saja metode Sugestopedia dari Lazanov, metode Counseling-Learning dari Charles Churan, metode The Silent Way dari Gattegno, dan banyak lagi metode yang lainnya. Para tenagai pengajar metode pembelajaran harus mencoba mendalami metode-metode tersebut dan juga metode mofern lainnya dengan lebih detil sehingga pengetahuan dan pengalaman itu dapat ditransformasikan kepada para mahasiswa PBA. Dengan demikian, para dosen metode pengajaran serta mata kuliah kompetensi pedagogis lainya betul-betul dituntut untuk terus lebih inovatif dalam proses transformasi pengetahuan (tranfer of knowledge) dan praktik perkuliahan di dalam kelas.
Seorang guru atau calon guru juga dituntut untuk menguasai perkembangan kejiwaan anak didik. Terutama terkait dengan perkembangan intelektual dan mental anak. Karena pada dasarnya seorang guru tidak hanya mampu dalam melakukan tranformasi pengetahuan tetapi lebih jauh dari itu ia harus mampu membangun interaksi kejiwaan yang positif dengan anak-anak didiknya. Dari sini dapat dipahami ilmu Psikologi (perkembangan) sangat diperlukan untuk mewujudkan kompetensi tersebut. Khusus untuk mahasiswa PBA juga diperlukan mata kuliah psikolingustik (Ilm an-Nafsy al-Lughawy). Ilmu ini dapat memberikan penjelasan tentang kendala atau kesulitan anak dalam berbahasa yang diakibatkan gangguan mental. Ilmu ini juga memberikan pemahaman kepada proses perkembangan anak dalam kegiatan pemerolehan bahasa (iktisab al-lughah). Dan banyak lagi pemahaman-pemahaman lain yang terdapat dalam kajian Psikolinguistik. Ilmu ini sangat dibutuhkan di prodi PBA, karena di samping ia bagian dari ilmu terapan ilmu ini sangat membatu dalam membekali kompetensi pedagogis mahasiswa. Namun sangat disayangkan, penulis belum melihat mata kuliah ini dalam kurikulum prodi PBA STAIN Pekalongan.
Seorang guru atau calon guru juga harus memiliki kemampuan dalam melakukan evaluasi pembelajaran. Karena sebagus apapun mataeri yang diberikan serta metode yang digunakan tidak terlihat ada hasilnya jika tidak dilakukan evaluasi. Mata kuliah Evaluasi Pembelajaran memiliki peran besar dalam membekali kompetensi tersebut. Numun demikian, perlu diingat bahwa model evaluasi untuk materi tertentu belum tentu cocok atau sesuai dengan model evaluasi materi yang lain. Seperti halnya model evaluasi bahasa asing tentunya berbeda dengan sistem evaluasi materi ilmu yang lain. Oleh karena, khusus untuk PBA diperlukan model evaluasi khusus untuk materi pembelajaran bahasa (ikhtibar al-lughah).
Demikianlah sedikit penjelasan beberapa mata kuliah yang mendukung komptensi pedagogis mahasiswa sekalipun tidak semua mata kuliah itu dapat dijelaskan. Namun demikian, penekanan pada ilmu-ilmu terapan dalam prodi PBA bukan bertarti harus me ngenyampingkan ilmu-ilmu teoritis bahasa. Justru sebaliknya ilmu-ilmu teoritis perlu diperkuat bahkan harus ditambah volumenya. Jika selama ini mata kuliah seperti Kalam, Nahwu, Sharaf, Balaghah, Qira'ah hanya sampai pada tingkat dua, maka tidak ada salahnya jika ditambah Kalam tiga dan empat, Nahwu tiga dan empat, Qira'ah tiga dan empat, Balaghah tiga dan empat, dan seterusnya.


D.Membangun Bi'ah Lughawiyah di dalam Kampus
1.Program Pembelajaran Bahasa Arab Intensif
Program Pembelajaran Bahasa Arab Intensif (al-Banamaj al-Mukatsaf fi Ta'limi al-Lughah al-Arabiyah) atau sering disebut dengan program PPBAI sebenarnya merupakan langkah awal untuk membangun iklim berbahasa di STAIN Pekalongan. Program ini tidak hanya wajib diikuti oleh mahasiswa PBA tapi seluruh mahasiswa baru STAIN Pekalongan diwajibkan untuk mengikuti Program PPBAI selama satu tahun atau dua semester. Program ini dimaksudkan agar mahasiswa baru mendapatkan empat kemahiran bahasa Arab sekaligus melalui materi ajar yang terdapat dalam buku al-Arabiyah Baina Yadaik (ABY). Dan tidak tanggung-tangung untuk mendukung program ini STAIN Pekalongan yang dalam hal ini ditangani Pusat Bahasa merekrut dosen bahasa Arab secara besar-besaran yang berlulusan dari beberapa perguruan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri. Dan Sebagian besar dosen-dosen bahasa Arab tersebut lulusan universitas di timur tengah seperti Mesir, Sudan, Arab Saudi dan lain sebagainya. Tentunya ini semuan menjadi modal positif upaya STAIN dalam meningkatkan Pengembangan Bahasa Arab untuk mahasiswa. Dan tentunya juga, program bahasa Arab intensif ini akan sangat mendukung dalam membangun bi'ah lughawiyah (lingkungan berbahasa) di mana intensitas pembelajaran bahasa cukup banyak yang dilaksanakan selama tiga hari (hari kamis-sabtu). Kegiatan berbahasapun seringkali dilakukan oleh para dosen dan mahasiswa tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi juga di luar kelas dengan membuat kelompok-kelompok hiwar (berbicara bahasa Arab). Dalam proses pembelajarannya pun para dosen juga dituntut untuk menggunakan metode dan media pembelajaran yang lebih variatif dan inovatif, sehingga para mahasiswa tidak merasa bosan dalam mempelajari bahasa Arab.

2.Mumarasah Penguasaan Bahasa Arab
Seiring dengan diterapkannya program pembelajaran bahasa Arab intensif selama satu tahun dan setelahnya tidak ada lagi pembelajaran bahasa Arab, maka penting kiranya ada upaya mumarasah atau menjaga bahkan meningkat kemampuan bahasa Arab mahasiswa. Kegiatan mumarasah ini dapat dilakukan langsung baik oleh mahasiswa sendiri dan juga semua dosen secara keseluruhan. Setiap dosen yang mengampu mata kuliah yang berkaitan ilmu agama memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga kemampuan bahasa mahasiswa yang telah dikuasainya. Demikian juga sistem atau aturan juga dapat membantu dalam mengkondisikan upaya mumarasah kemampuan bahasa Arab mahasiswa.
Untuk prodi PBA misalnya, sangat menekankan para dosen yang mengajar mahasiswa PBA untuk menggunakan referensi berbahasa Arab pada setiap mata kuliah yang diajarkannya. Referensi bahasa Indonesia hanya menjadi komplemen atau pelengkap. Selain itu, sistem atau aturan juga dibuatprodi PBA untuk dapat mendukung upaya mumarasah bahasa. Seperti halnya adanya anjuran mahasiswa PBA untuk menulis skripsinya dengan bahasa Arab. Dal kalaupun skripsi itu ditulis dengan bahasa Indonesia, maka diwajibkan 60 % referensi yang dijadikan sumber dalam skripsi itu adalah buku-buku, jurnal, makalah yang berbahasa Arab.
Upaya mumarasah yang juga dilakukan, prodi PBA telah mencoba melakukan upaya pembenahan administratif yang berbasis bahasa Arab. Beberapa hal yang sudah dilakukan diantaranya adalah: (1) Plangisasi (Arab-Inggris) di lingkungan jurusan Tarbiyah; (2) Arabisasi Arsip; seperti surat persetujuan wali studi, jadwal seminar, jadwal munaqasyah, jadwal ujian komprehensif, dan lain sebagainya; (3) penyusunan bebarapa pedoman yang berbasis kompetensi PBA seperti pedoman PPL, KKL, Kisi-kisi Kompre, dan Pedoman Penulisan Skripsi bagi mahasiswa PBA; (4) Pembuatan jurnal Pendidikan Bahasa Aran; (5) Mumarassah juga harus didukung dengan adanya kelengkapan referensi bahasa Arab (buku, jurnal, majalah, dan koran berbahasa Arab); (6) mumarasah juga dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan berbahasa seperti workshop, seminar, kursu, lomba-lomba bahasa, dan lain sebagainya. Terutam referensi-referensi yang berkaitan dengan metodologi pembelajaran bahasa Arab. Upaya-upaya mumarasah ini, sedikit besarnya akan daat membatu pengkondisian bi'ah lughawiyah yang terjadi di jurusan Tarbiyah.

3.Membangun Kesadaran dan Sikap mahasiswa bahwa Mereka adalah Calon Guru Bahasa Arab
Motivasi merupakan unsur penting dalam membangun keasadaran mahasiswa PBA baik kaitannya dalam belajar bahasa Arab maupun dengan penguasaan metodologi pembelajaran. Mahasiswa PBA harus betul-betul sadar bahwa mereka adalah calon-calon guru, pengajar bahasa Arab. Mereka harus sampai pada performance tertentu. Dalam ilmu bahasa, performance dapat diartikan sebagai tingkah laku yang sebenarnya. Dalam belajar bahasa, bagaimana cara seseorang memakai bahasa dalam bentuk tingkah laku sebenarnya.
Performance mahasiswa PBA tidak hanya yang bersifat reflektif, dimana belajar bahasa hanya bersifat mengulang dan meniru apa yang disampaikan dosenya tetapi harus jauh lebih jauhdari itu, sampai pada tingkat performance produktif. Performance yang produktif tidak bertitik tolak dari kewajiban mengikuti model bahasa yang diberikan oleh guru atau text book, akan tetapi dimualai dengan sesuatu yang ingin dikatakan dan dengan siapa sesuatu itu ingin dikemukankan. Prformance yang produktif datang dari suatu tempat yang lebih dalam dari diri siswa. Itulah sebabnya mengapa hasil yang diperoleh lebih mapan dan mantap.
Motivasi dalam memperoleh bahasa asing adalah semacam dorongan kebutuhan, keinginan murid untuk mengetahui suatu bahasa. Gardner dan Lambert seperti yang dikutip Arsyad menyatakan bahwa ada dua jenis motivasi dalam belajar bahasa asing, yaitu: Integratif dan Instrumental. Motivasi instrumental adalah keinginan untuk memiliki kecakapan berbahasa asing karena alasan faedah atau manfaat seperti: supaya mudah dapat pekerjaan, penghargaan sosial, atau memperoleh keuntungan ekonomi lainnya. Di sini yang tampak adalah nilai praktis dan keuntungan yang bakal diperoleh.
Sementara itu, motivasi intergartif adalah adanya keinginan untuk memperoleh kecakapan berbahasa asing agar supaya dapat berintegrasi dengan masyarakat pemakai bahasa tersebut. Di sini yang terlihat adalah adanya minat pribadi yang tulus terhadap keinginan untuk bermasyarakat dengan kelompok orang-orang yang memiliki bahasa asing tersebut beserta kebudayaannya.
Sikap dan motivasi yang positif tentunya sangat perlu ditanamkan pada mahasiswa PBA, tidak hanya dalam hal belajar bahasa Arab tetapi juga mengenai belajar mengajar bahasa Arab. Sikap dan kesadaran positif ini juga akan dapat membantu tidak hanya dalam pengembangan kemampuan mahasiswa lebih jauh dari itu dapat menciptakan bi'ah lughawiyah di lingkungan kampus. Pada praktiknya, pimpinan STAIN, jurusan, prodi, dosen-dosen bahasa Arab, pegawai, serta pengurus HMPS PBA harus berperan aktif dalam menciptakan sikap dan kesadaran positif yang harus dimiliki mahasiswa PBA secara keseluruhan.

4.Perlunya para Dosen Bahasa Arab untuk terus Mengembangkan kompetensi Berbahasa dan Metodologi Pembelajarannya
Dalam dapat membangun kemampuan pedagogis mahasiswa, doses-dosen bahasa Arab juga dituntut untuk menguasai kompetensi metodologis dalam pembelajaran bahasa Arab. Hal ini penting dikarenakan para dosen juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan metodologis kepada para mahasiswa dan juga dituntut untuk dapat menekankan mahasiswa pada keterampilan mengajar. Oleh karena itu, program-program pengembangan kapasitas dosen perlu dicanangkan oleh para pemangku kebijakan, terutama pihak-pihak pimpinan yang langsung terkait dengan pengembangans akademik dan pengawalan mutu. Program-program tersebut bisa berupa pelatihan, workshop, kursus, pembekalan pengalaman mengajar bahasa yang itu dapat dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri.
Sebagai tenaga pengajar bahasa asing (Arab), seperti yang sering disebutkan para ahli bahwa sorang pengajar paling tidak harus memiliki tiga kompetensi bahasa, yaitu kompetensi komunikatif (kifayah itthishaliyah), kompetensi linguistik (kifayah lughawiyah) dan kompetensi kultural (kifayah tsaqafiyah). Sekalipun penulis dapat menambahkan satu lagi kompetensi yaitu kompetensi metodologis (kifayah manhajiyah). Untuk mendapatkan empat kompetensi di atas, kiranya para dosen perlu diberikan program-program seperti yang sudah disebutkan di atas. Pengembangan riset mengenai metodologi pembelajaran bahasa Arab juga harus menjadi kegiatan penting yang harus dilakukan oleh para dosen bahasa Arab.

E.Penutup
Demikian sedikit gambaran arah kelimuan prodi PBA dalam hal penguatan kemampuan pedagogis. Sebenarnya banyak hal atau kegiatan yang harus dijelaskan terkait dengan pengembangan prodi dalam hal ini. Tapi yang paling penting dari ini semua adalah bagaimana arah kegiatan serta program tersebut tidak hanya sebagai wacana tetapi harus betul-betul dapat direalisasikan. Wallahu 'Alam.